Hai, aku Kak Ervin (begitu adik-adik menyapaku). Setiap sore, aku sering berjalan kaki dari tempat kerja ke rumah. Perjalanan pulang bisa di tempuh 15-20 menit. Aktivitas berjalan kaki ini menjadi rutinitas diri mengganti jadwal olahraga yang sering tertunda.
Nah, biasanya.. selama perjalanan ke rumah, daya observasiku sering kali muncul hehe…
Apa sih yang sedang diamati? Hingga naskah ini dibuat, aku menyadari jika persoalan sampah bukanlah hal sederhana yang bisa diubah seperti mengubah telapak tangan.
Permasalahan sampah di lingkungan bisa terlihat besar karena hasil dari akumulasi (kumpulan) sampah individu dalam suatu wilayah. Jadi, penumpukan sampah yang banyak tak terhindarkan. Dari kejadian ini, ada pelajaran yang bisa diambil hikmahnya. Bagiku, jika ingin mengubah sesuatu yang besar, maka perlu dimulai dari diri sendiri, lalu anggota keluarga, lalu antar keluarga (masyarakat). Maka, untuk menumbuhkan kesadaran dalam diri, perlu motivasi yang benar dan baik.
Perjalananku mengatur siklus sampah yang dihasilkan diri sendiri sungguh tidak mudah. Sekitar 4 tahun habit pengelolaan sampah pribadi ini dijalani. Alhasil, baru di tahun 4 inilah rasanya aku baru bisa mandiri melakukan aksi pilah sampah di rumah sendiri. Biasanya bersama ibu..


Selama 4 tahun, aku mengobservasi pemilahan yang efektif untuk diriku. Beberapa hal diantaranya yaitu:
- Meyakini dalam pikiran, aktivitas pilah sampah itu mudah dan sederhana
- Memahami jenis tipe-tipe sampah dengan benar
- Latihan konsisten membuang sampah sesuai poskonya secara bertahap
- Mengatur asupan makan agar tidak menimbulkan sampah yang sulit dikelola
- Memahami waktu yang akan disiapkan untuk mengolah sampah jika tidak perhitungan dengan jumlah sampah yang digunakan
- Merasakan efek tidak nyaman jika tidak memilah sampah
- Merasakan nikmat dan ketenangan saat sampah terpilah
Aktivitas di atas secara tidak langsung mengantarkanku untuk selektif dengan barang, makanan, maupun benda-benda lain yang akan dibeli. Saat ini, aku merasakan hari-hari dengan habit ini menjadi lebih nyaman, lega dan ringan. Ibaratnya, sampah yang kita bawa adalah beban. Semakin menumpuk, semakin berat beban yang dipikul. Sebaliknya, jika sampah selalu berada dalam pos-posnya (organik, non organik dll), semakin ringan beban yang dibawa dan semakin menyadarkan diri kita “Wah alhamdullilah, Aku bisa memilah sampah…!”
Oleh karena itu, sekecil apapun yang kita perbuat hari ini, maka dapat kita coba atasi dengan melalukan hal sederhana di rumah. Jika orang lain belum bisa menerapkan pengelolaan sampah yang baik dan benar, serta masih memudah-mudahkan membuang sampah tanpa arah, semoga kita tetap istiqomah melakukan hal sebaliknya.. hingga kelak anak-anak kita berkata “Ibuku selalu mengajakku memilah sampah, jadi aku perlu melanjutkan kebiasaan ibu untuk menjaga kebersihan diri dan bumi”
Nah, begitulah sekelumit cerita kali ini.. Semoga kita semua bisa belajar, praktek dan konsisten menjalani pemilahan sampah di rumah yaaa…
Salam,
Ervinda Yuliatin


Tinggalkan komentar