Menjadi Sahabat Bumi Apakah Harus Ber-zerowaste?
Sebelum mengajak teman-teman untuk ber-zerowaste, aku pengen ajak teman-teman untuk merekam ingat ke manakah sampah-sampah kita berlabuh? Apakah ia di darat atau di laut?
Bagi aku yang tinggal di perkotaan dengan fasilitas petugas kebersihan, sampah-sampahku berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Akhir (TPSA) di kotaku. Adapun bagi orang-orang yang lingkungan tempat tinggalnya tidak memiliki fasilitas petugas kebersihan ada dua kemungkinan, ia berserak di darat atau berserak di laut di mana sungai bermuara. Sesak…
Apa kamu pernah berkunjung ke TPSA di kotamu tinggal? Atau pernah melihat secara langsung atau daring bagaimana kondisi laut dan satwa di bawahnya? Bagaimana kondisinya?
Aku pernah dengan sengaja berkunjung ke sebuah TPSA di kotaku. 200-300 ton sampah setiap hari masuk ke sana. Aku tinggal di kota kecil. Bagaimana dengan kota besar dan kota-kota lainnya? Tak kurang dan tak lebih sama kondisinya. Banyak TPSA di Indonesia yang overload dan warga sekitar TPSA menginginkan agar TPSA ditutup sementara.
Apa yang aku rasakan ketika berkunjung ke TPSA? Sangat tidak nyaman. Padahal kunjunganku ke sana tak lebih dari 1 jam lamanya. Terbayang jika suatu saat gunungan sampah itu semakin meninggi, semakin banyak atau bahkan semakin mendekat ke pemukiman kita tinggal. Ah… membayangkan sampah tercampur yang tidak diangkut selama seminggu saja sudah membuatku bergidik.
Bagaimana dengan kondisi laut kita? Bagi yang jauh dari laut, yuk coba tengok sungai-sungai yang ada di sekitar tempat kita tinggal! Adakah sampah di sana? Kurang lebih itulah sedikit yang akan bermuara ke laut. Laut tak hanya berperan sebagai produsen dalam rantai makanan kita. Adalah fakta bahwa 70% oksigen di bumi dihasilkan oleh laut dari biota yang hidup di bawahnya. Adakah dari kita yang tak butuh oksigen?
Kontributor : dy.arisma





Tinggalkan komentar