Menerapkan konsep zerowaste di rumah itu perlu tanggung jawab dan kesadaran utuh. Sadar bahwa sampah yang dihasilkan kelak juga akan dimintai pertanggungjawaban. Sadar bahwa dalam pemenuhan kebutuhannya, manusia berdampingan dengan makhluk hidup lain yang mungkin saja terganggu dengan aktivitas konsumtif kita, dari sisa konsumsi yang kita hasilkan.
Semasa kecil hidup di desa dengan sawah terbentang dan dilalui sungai irigasi membuatku merasakan perubahan besar terutama dari segi pencemaran sungai. Sungai yg dulu semasa kecil adalah tempat kami bermain, mandi, dan mencuci baju kini tercemar oleh sampah plastik dan limbah kotoran hewan di peternakan sapi milik warga juga limbah pewarna kain batik. Sedih, padahal sungai irigasi itu mengaliri sawah-sawah warga.
Sejak kecil, aku sudah merasakan risih ketika warga menjadikan sungai sebagai tempat sampah. Pluuung, sampah satu dua ember dibuang ke sungai. Tanpa perasaan bersalah, tanpa ragu. Aku? Sering menolak ketika diminta membuang sampah ke sungai. Namun, tak ada daya, aku hanya anak kecil yang belum bisa memberi solusi dan tak punya keberanian untuk bersuara.
Tahun berlanjut, aku mulai melupakan perih hati perihal sampah ini. Tergantikan oleh aktivitas sekolah, aku belajar dan jarang ada di rumah. Hingga pada tahun 2009 aku mulai merantau ke Ibukota untuk kuliah. Di sana, aku mengalami kecemasan yang sama. Kontrakan yg berserak sampah karena jarang diangkut oleh petugas. Aku pernah bertanya kepada petugas kemana sampah ini dibuang? Apakah di atas (jalan utama) nanti dijemput kendaraan dinas? Dan apakah jawabannya adalah yg teman-teman ingin dengar? Tidak, petugas berkata bahwa sampah-sampah ini akan dibuang ke bawah, di DAS Sungai Ciliwung. Iya, sungai yg sering banjir, sungai yg muaranya ada di Teluk Jakarta. Huhuhu
Tahun demi tahun berganti, pada 2013 setelah lulus kuliah saya pindah ke Cilegon mengikuti suami saya bekerja. Keresahan yang sama, soal sampah. Alhamdulillah aku tinggal di perumahan dengan fasilitas petugas kebersihan. Merasa nyaman dan terbebas dari kenyataan bahwa sampahku tanggung jawabku. Hingga ada satu momen di tahun 2019, kebakaran melanda TPSA di kotaku tinggal. Sampah-sampah tidak terangkut menimbulkan bau yang menyengat akibat sampah yang tercampur. Asap tebal menyelimuti sebagian kota. Di titik itulah aku merasa, aku harus bisa mengolah sampahku sendiri.
Di Tahun 2019 itu pula aku bertemu dengan Ibu Profesional dan dikumpulkan dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama melalui kopdar. Dari sanalah aku pertama kali mendapatkan materi mengompos yang hingga kini menjadi rutinitasku. Kekepoanku tentang mengompos berlanjut dengan mengikuti kulzoom mengompos dengan founder kelas belajar zerowaste Bu Dini. Tahun 2020 aku juga mengikuti seminar ecoenzyme yang diadakan secara daring.










Tinggalkan komentar