Ervinda: Game ZW-2, Dibalik Akar Sayur, Ada Makna Istimewa

Semenjak berpindah kota sejak Desember lalu, saya belajar untuk mandiri. Tidak hanya dari sisi tempat tinggal, tetapi juga dari sisi menanamkan pola kebiasaan baik yang selama ini Ibu praktikkan. 

Latihan membuat kompos akan mudah jika dilakukan bersama. Bagi seorang pemula seperti saya ini perlu tekad dan menemukan alasan yang kuat mengapa suatu hal itu perlu dikerjakan dengan konsisten. Terutama dalam hal mengompos ya.. Selama ini belajar alakadarnya.. Karena masih mengandalkan “Kan ada Ibu yang bantuin” 

Saat sekarang jauh, menanamkan pola kebiasaan minim sampah organik sungguh menjadi tantangan yang luar biasa. Awal mula pindahan rumah, mulai terlihat berapa jumlah sampah organik yang saya hasilkan perhari. Ternyata, lumayan juga jumlahnya. 

Curahan Hati Perindu Komposter 😀
Komposter Impian sudah datang…

Jenis sampah yang dominan yaitu jenis sampah organik sisa dapur berupa potongan sayuran (akar-akar), batang dan kulit bawang. Lambat laun, saya pun memberanikan diri untuk membuat kompos dari karung beras bekas. Unsur cokelat yang saya gunakan berupa tanah (media tanam jadi yang sudah mengandung pupuk kandang) dan cacahan bubur kertas (kertas bungkus nasi, nasi kotakan dan kemasan kotak lainnya yang mudah hancur jika direndam). Unsur cokelat ini dicampurkan dengan tanah lalu disiramkan air cucian beras yang sudah dimalamkan selama semalam. Campuran itu nantinya digunakan sebagai starter kompos secara sederhana. Alhamdulillah, setelah sepekan saya bisa membeli komposter idaman hehe…

Ada banyak maggot di komposter lama
Mengompos yang praktis

Hasil starter kompos kemudian saya pindahkan ke komposter baru. Selanjutnya, saya tambahkan sampah organik sisa dapur sebagai unsur hijaunya. Setelah berhasil membuat kompos ini, rasa hati menjadi sangaaat lega. Akhirnya saya menyadari, saya bisa melawan rasa takut dan ketergantungan sehingga mindset “Mengompos mandiri itu sulit” menjadi sirna dengan hadirnya komposter hijau di sudut pekarangan rumah.. Alhamdulillah…

Saat tanaman masih baby…

Sisa sampah organik dapur berupa akar sayuran saya tumbuhkan kembali. Hingga saat ini saya sudah menyantap hidangan kangkung hasil panen regrow dari mini garden. Alhamdulillah.. Semua terasa seperti siklus rantai yang menyiratkan hikmah pembelajaran “Dari yang dianggap sampah ternyata membawa hikmah”.

Semoga senantiasa kita tetap diberi kelapangan dan keistiqomahan menjadi sahabat bagi bumi

Salam Lestari,

Ervinda Y

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai