8 Langkah Jitu Atasi Food Waste

Penulis: Okta

Apakah Sahabat pernah secara nggak sengaja membuang sampah makanan yang ada di piring makan? Atau lupa dan membiarkan bahan makanan yang ada di ruang penyimpanan membusuk dan lewat tanggal kadaluarsanya? Atau membuang nasi sisa yang nggak termakan?

Kalau jawabannya pernah semua, yuk kita tos! Ternyata kita semua pernah berada di fase khilaf yang sama Sahabat. Huhu sedihhh

Pada artikel ini, Aku akan membagikan sedikit tips untuk mengurangi sampah makanan atau sampah sisa makanan yang menjadi kekhawatiran kita bersama. Cekidot!

Fakta Tentang Sampah Makanan

Jenis dan Sumber Sampah Terbanyak di Indonesia.
(sumber: sipsn.menlhk.go.id)

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, volume sampah di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 18,2 juta ton/tahun. Funtastisnya, total produksi sampah nasional di tahun tersebut naik menjadi 68,5 juta ton.

Jenis sampah yang paling banyak dihasilkan adalah sisa makanan (food waste) sebanyak 40,3%. Dilanjutkan dengan sampah plastik (17,3%), kayu/ranting/daun (12,9%), kertas/karton (11,8%), karet/kulit, kain, kaca, logam, dan lain-lain (7,8%).

Sementara berdasarkan sumber sampahnya, sampah yang paling banyak presentasenya yaitu sebesar 40,8%, berasal dari sektor rumah tangga. Itu artinya apa? Yap! dari rumah saja, kita bisa menghasilkan begitu banyak sampah.

Seperti yang sudah Aku sampaikan di atas, sektor rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar karena beberapa hal.

  1. Terbuangnya sisa makanan berlebih atau makan melebihi porsi sehingga makanan bersisa di piring makan
  2. Tidak sempat mengolah bahan makanan
  3. Lupa menaruh bahan makanan tertentu di kulkas dan membiarkan sampai masa kadaluarsanya habis

Ternyata, perjalanan sampah sisa makanan ini nggak ujug-ujug mulai dari piring makan kita. Menurut FAO, makanan yang “hilang” ini terbuang pada saat kita melakukan proses produksi, panen, dan penyimpanan. Juga pada saat kita mengolah, mengirim, sampai mengonsumsi makanan.

Logikanya, ketika kita menyia-nyiakan makanan itu, artinya kita turut membuang-buang sumber energi yang digunakan dalam proses produksinya juga.

Selain itu, membuang sisa makanan (food waste) juga menimbulkan kerugian ekonomi dan ekologi. 

Saat kita membuang sisa makanan yang seharusnya dimanfaatkan bagi orang-orang yang masih kelaparan, sisa makanan kita juga berkontribusi dalam peningkatan emisi gas rumah kaca di atmosfer ketika sisa makanan itu mengalami proses pembusukan.

Mirip butterfly effect gitu nggak sih?

Tingginya angka sampah makanan memicu kerugian ekonomi senilai 213 triliun hingga 551 triliun atau setara 4-5 % Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. 

Saat begitu banyak pangan yang dibuang, masih banyak penduduk Indonesia yang kelaparan. Setidaknya ada 22 juta orang kelaparan yang dilaporkan mengalami kelaparan rentang tahun 2016-2018.

Sampah sisa makanan juga memicu emisi atau pembuangan gas rumah  kaca sebesar 1702,9 megaton karbondioksida ekuivalen pada periode 2000-2019

Fakta menyedihkannya, emisi gas rumah kaca ini 25 kali lebih berbahaya dibandingkan dengan gas karbondioksida.

Efek gas rumah kaca yang berlebih, akan menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem. Nah udah kebayang kan sahabat, gimana rentetan panjang perjalanan sisa sampa kita kalau nggak disikapi dan dikelola dengan bijak?

Dampak pada Lingkungan dan Kesehatan

Penulis: Okta

Sampah sisa makanan memiliki dampak serius terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia.

Proses open dumping di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mengakibatkan dampak yang signifikan bagi kelestarian tanah dan air di sekitarnya.

Pasalnya, sampah sisa makanan yang bercampur dengan sampah anorganik memiliki potensi bahaya karena menghasilkan cairan leachate beracun yang merusak lingkungan. Cairan tersebut dihasilkan dari pemaparan air hujan di timbunan sampah.

Keberadaan cairan leachate berdampak pada eutrofikasi sistem perairan, mengurangi jumlah oksigen dan mendorong pertumbuhan organisme berbahaya yang dapat merusak kesehatan. Duh..nggak kebayang seperti apa rusaknya lingkungan jika hal ini dibiarkan terus-menerus!

Selain itu, kita perlu notice banget nih. Bahan organik seperti sayuran, nasi, dan lauk-pauk dalam sepiring makan kita itu sebenarnya secara fitrah mudah terurai atau membusuk.

Karena sifatnya yang cepat terurai, maka nggak heran kalau proses ini mengeluarkan zat yang berbau busuk. Bau busuk menjadi ‘magnet’ bagi vektor penyakit seperti tikus, lalat, dan kecoa.

Contoh sederhana, lalat yang hinggap pada sisa makanan akan banyak mengeluarkan kotoran. Ketika lalat terbang, bukan tidak mungkin berpotensi mengontaminasi makanan yang ada di atas meja makan kita.

Hal ini terjadi karena pada sampah tumbuh milyaran hingga trilyunan mikroorganisme. Ketika lalat hinggap di makanan maka lalat itu mengeluarkan kotorannya, sehingga akan menyebabkan masalah pencernaan di tubuh manusia jika termakan.

Terus pertanyaan selanjutnya, apa yang perlu kita lakukan?

Cara Mengatasi Food Waste

Kita bisa mulai dari langkah sederhana untuk membiasakan diri tidak membuang sampah makanan. Mulai dari proses mencegah, memilah, dan mengolah sampah.

Berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Perkirakan porsi ketika memasak. Pastikan porsi masakan nanti habis untuk dimakan. Selain itu kita nggak perlu ikutan trend seperti mukbang. Hal ini juga memicu gaya hidup sederhana atau tidak berlebih-lebihan.
  2. Rencanakan menu yang akan dimasak. Ini akan menentukan bahan makanan apa yang akan dibeli. Langkah ini bermanfaat untuk menghindari bahan makanan yang membusuk atau tidak bisa diolah atau dikonsumsi.
  3. Membuat daftar belanja saat merencakan menu. Fungsinya menghindari membeli bahan makanan yang nggak perlu
  1. Sebagai konsumen yang baik, kita perlu membantu produsen agar tidak menghasilkan sampah makanan. Caranya dengan tidak underestimate terhadap buah atau sayur yang tampilannya nggak secantik buah atau sayur yang ada di supermarket.
  2. Jika persediaan makanan terlalu banyak, sisihkan untuk dibagikan ke orang lain. Seporsi makanan yang kita bagi tidak akan membuat kita jadi miskin kok.
  3. Menyimpan makanan maupun bahan makanan dengan benar. Pelajari food preparation agar makanan maupun bahan makanan yang kita beli tidak mudah membusuk atau berjamur.
  4. Apabila kita terlanjur memasak nasi yang jumlahnya terlalu banyak, kreasikan nasi jadi makanan yang lain. Contohnya menjadi intip atau rengginang.
  5. Jika benar-benar tidak habis dimakan, sisa makanan bisa diolah kembali. Sisa sayur atau makanan bisa dijadikan Kompos. Sisa bahan makanan seperti akar sayuran bisa kita Regrow. Kulit buah dikreasikan menjadi Ecoenzyme. Kita bisa membuat lubang biopori juga di rumah.

Itulah langkah-langkah yang bisa kita mulai untuk mengurangi sisa makanan atau food waste agar tidak berakhir di TPA.

Apakah Sahabat sudah menerapkan salah satu langkah di atas? Kalau sudah, selamat yaa! Semoga tetap konsisten menerapkan zero waste lifestyle.

Referensi
Tantangan Kelola Sampah (dikutip dari situs https://bsilhk.menlhk.go.id/)
Update Data Volume Sampah Tahun 2021 (dikutip dari https://sipsn.menlhk.go.id/)
Kanal YouTube Kompas TV - 5 Cara Hindari Food Waste Agar Tak Lagi Membuang-buang Makanan
Kanal YouTube Eathink - Orang Indonesia Buang Makanan Sampai 300 kg? Berikut Cara Mengurangi Food Waste!
Kanal YouTube Narasi News Room- Setop Buang-buang Makanan, Sampahnya Berbahaya!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai